Senin, 04 Juni 2012

Tradisi-tradisi Umat Buddha


(diambil dari www.justbegood.net)

Tradisi-tradisi umat Buddha
Mengapa terdapat bermacam-macam tradisi umat Buddha?
Ajaran Buddha ditemukan lebih dari 2500 tahun yang lalu, dan melalui perjalanan waktu yang panjang ini, telah berkembang tiga tradisi utama. Perkembangan ini terbentuk seiring dengan penyesuaian ajaran Buddha dengan kondisi dan kebudayaan dari berbagai negara dimana ajaran tersebut tersebar.
Akan tetapi, ajaran Buddha telah terbukti bertahan, sementara kulit luar mungkin berbeda, inti ajaran Buddha tetap sama untuk semua tradisi. Misalnya, persetujuan atas inti ajaran, atau “Titik yang menyatukan” di antara tradisi yang berbeda dengan resmi disahkan oleh Sidang Sangha Buddhis Sedunia di Sri Lanka pada tahun 1966.
Umat Buddha menerima dan menghargai perbedaan, dan menganggap bermacam-macam tradisi hanyalah sebagai jalur yang berbeda untuk tujuan yang sama. Pada umumnya, tradisi yang berbeda-beda ini membantu dan mendukung satu sama lain di sepanjang jalur ini.

Secara singkat, apa sebenarnya tradisi Buddhis yang bermacam-macam ini?
Tradisi Theravada adalah yang tertua dan yang paling konservatif. Ia paling dekat dengan ajaran murni/awal Buddhis seperti yang diajarkan oleh Buddha sendiri. Ia lebih sederhana dari tradisi lain dalam pendekatan, dengan sedikit upacara dan ritual, menekankan hanya pada disiplin dan moralitas dan praktek dari meditasi.
Tradisi Mahayana mulai berkembang di India sekitar 200 B.C. dan 100 A.D. Ia telah menyesuaikan diri dengan bermacam-macam kebudayaan Asia yang menyerap unsur ajaran Hindu dan ajaran Tao. Ajaran Buddhis Mahayana menekankan pada belas kasih dan keyakinan dengan tujuan membantu yang lainnya meraih pencerahan. Sekte Zen, Nichiren dan Tanah Suci tergolong dalam ajaran Buddhis Mahayana.
Tradisi Vajrayana atau Tibet muncul di India sekitar 700 A.D. ketika bhikkhu-bhikkhu Buddhis India membawa ke Tibet label ajaran Buddha dengan praktek Tantra. Ini dikombinasikan dengan unsur agama Bon setempat, memberikan Vajrayana beberapa latihan-latihan uniknya. Ia cenderung bersandaran lebih pada ritual, pembacaan mantra dan visualisasi. Tokoh Buddhis yang paling terkenal, Dalai Lama, adalah kepala spiritual dari tradisi Vajrayana.

Mengapa kata-kata yang sama dieja  secara berbeda dalam tradisi Buddhis yang berbeda-beda?
Di jaman Buddha, bahasa yang umumnya dipakai adalah Pali, berlawanan dengan Sansekerta yang digunakan terutama oleh Brahmin, pendeta ajaran Hindu. Buddha memilih untuk berbicara dan mengajar dalam Pali secara umumnya sebab Beliau menginginkan sebanyak mungkin orang untuk belajar dan mendapatkan manfaat dari ajarannya.
Sekolah Buddhis Theravada menggunakan ejaan dan pelafalan dalam Pali, dan sekolah Mahayana/Zen dan Tibet menggunakan Sansekerta pada umumnya. Contoh dari ejaan Pali adalah Dhamma, kamma dan Nibbana. Versi Sansekerta dari kata-kata ini adalah Dharma, karma dan nirvana.
Buku kecil ini menggunakan ejaan Pali sebab Pali adalah bahasa yang paling dekat dengan apa yang digunakan oleh Buddha sendiri.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar